Sed accumsan leo in mauris rhoncus volutpat.
Sed magna sapien, euismod convallis sagittis quis, varius sit amet mauris. Vivamus id quam congue venenatis et at lorem. Ut ullamcorper odio id metus eleifend tincidunt. Proin ante arcu, aliquam nec rhoncus sit amet, consequat vitae lorem. Ellentesque mollis laoreet laoreet. Nulla ut nulla sed mauris tempor pulvinar. Morbi quis nulla sit amet mi vestibulum vehicula. Pellentesque lectus metus, gravida ac sollicitudin at, ornare vel justo. Sed id arcu ac ligula malesuada accumsan. Vivamus risus ipsum, vestibulum ut pellentesque iaculis, tempus vitae eros.
Aliquam in orci non ipsum eleifend scelerisque ac id urna. Etiam tristique egestas mauris eu fringilla. Phasellus ac neque a orci mattis tincidunt eget eget ante. Maecenas placerat sapien quis purus scelerisque sed porta urna vehicula. Sed eros turpis, bibendum non ullamcorper at, euismod in nulla. Morbi eleifend sodales risus. Maecenas eu nisl ut ante dictum scelerisque. Quisque quis tempus metus. Donec sit amet diam leo, non fermentum leo. Quisque eget nulla tortor, sed vestibulum nisl.


Pada waktu itu aku masih berumur 12 tahun , mama dan papaku sudah bercerai karena alasan tidak cocok.
Aku sebagai anak-anak sih nerima aja tanpa bisa protes. Saat aku berusia 15
tahun, Papa kawin lagi. Papa yang saat itu berusia 37 tahun kawin dengan Tante Nuna yang berusia 35 tahun. Tante
Nuna orangnya cantik, setidaknya pikiranku sebagai
lelaki disuia ke 15 tahun yang sudah mulai merasakan getaran terhadap
wanita. Tubuhnya tinggi, putih, pantatnya berisi dan buah dadanya padat.
Saat menikah dengan Papa, Tante Nuna juga seorang janda tapi nggak punya anak.
Sejak kawin, Papa jadi semangat hidup berimbas ke kerjanya yang gila-gilaan. Sebagai pengusaha, Papa sering keluar kota.
Tinggallah aku dan ibu tiriku dirumah. Lama-lama aku jadi deket dengan Tante Nuna
yang sejak bersama Papa aku panggil Mama Nuna.
Aku jadi akrab dengan Mama Nuna karena kemana-mana Mama minta tolong aku temenin. DirumaH Pun kalo Papa nggak ada aku yang nemenin nonton TV atau nonton film VCD.
Aku senang sekali dimanja sama Mama baruku ini.
Setahun sudah Papa kawin dengan Mama Nuna tapi belom ada tanda-tanda kalo aku
bakalan punya adik baru. Bahkan Papa semakin getol cari
duit dan sering banget keluar kota. Aku dan Mama Nuna semakin akrab aja.
Sampai-sampai kami seperti tidak ada batasan sebagai anak
tiri dan ibu tiri.
Kami mulai sering tidur disatu tempat tidur bersama. Mama Nuna mulai nggak risih untuk mengganti pakaian didepanku walaupun tidak bener-bener telanjang.
Tapi terkadang aku suka menangkap basah Mama Nuna lagi
berpolos ria mematut didepan kaca sehabis mandi.
Beberapa kali kejadian aku jadi apal kalo setiap habis mandi Mama
pasti masuk kamarnya dengan hanya melilitkan handuk dan sesampai dikamar handuk pasti ditanggalkan.
Beberapa kali kejadian aku membuka kamar Mama yang
nggak dikunci aku kepergok Mama Nuna masih dalam
keadaan tanpa sehelai benang sedang bengong didepan cermin.
photomemek. Lama-lama aku sengajain aja setiap selesai Mama mandi beberapa menit kemudian aku pasti pura-pura nggak sengaja buka pintu dan pemandangan indah terhampar dimata
mudaku. Sampai suatu ketika, mungkin karena terdorong nafsu laki-laki yang mulai menggeliat diusia 16 tahun, aku menjadi bernafsu besar
ketika melihat Mama sedang tiduran dikasur tanpa pakaian.
Matanya terpejam sementara tangannya menggerayang tubuhnya sendiri sambil
sedikit merintih. Aku terpana didepan pintu yang sedikit terbuka dan menikmati pemandangan itu.
Lama aku menikmati pemandangan itu. Kemaluanku berdiri tegak
dibalik celana pendekku. Ah, inikah pertanda kalo anak laki-laki sedang birahi?
Batinku.
Aku terlena dengan pemandangan Mama Nuna yang semakin hot menggeliat-geliat dan melolong.
Tanpa sadar tanganku memegang dan memijit-mijit si otong kecil yang
sedari tadi tegang. Tiba-tiba aku seperti pengen pipis dan ahh koq pipisnya enak ya.
Akupun bergegas kekamar mandi seiring Mama Nuna yang lemas tertidur.
Kejadian seperti jadi pemandanganku setiap hari. Lama-lama aku jadi bertanya-tanya.
Mungkinkah ini disengaja sama Mama? Dari keseringan melihat pemandangan ini
rupanya terekam diotakku kalau wanita cantik itu adalah wanita yang lebih dewasa.
Wanita berumur yang cantik dimataku terlihat sangat sexi dan sangat menggairahkan.
Suatu siang sepulang aku dari sekolah aku langsung ke kamarku.
Seperti biasa aku melongok ke kamar Mama. Kulihat Mama Nuna dalam keadaan telanjang bulat sedang tertidur pulas.
Kuberanikan untuk mendekat Mumpung perempuan cantik ini lagi tidur,
batinku.
Kalau selama ini aku hanya berani melihat Mama dari balik pintu
kali ini tubuh cantik tanpa busana bener-bener berada didepanku.
Kupelototi semua lekuk liku tubuh Mama. Ahh,
si otong bereaksi keras, menyentak-nyentak ganas.
Tanpa kusadari, mungkin terdorong nafsu yang nggak bisa
dibendung, kuberanikan tanganku mengusap paha Mama Nuna, pelan, pelan. Mama diam aja,
aku semakin berani. Kini kedua tanganku semakin nekad menggerayang tubuh cantik Mama
tiriku. Kuremas-remas buah dada ranum dan dengan naluri plus pengetahuan dari film BF aku bertindak
lebih lanjut dengan mengisap puting susu Mama.
Mama masih diam, aku makin berani. Terispirasi film blue yang kutonton bersama temen-temen, aku tanggalkan seluruh pakaianku dan si otong dengan marahnya menunjuk-nujuk.
Aku tiduran disamping Mama sambil memeluk erat.
Aku sedikit sadar dan ketakutan ketika Mama tiba-tiba bergerak dan membuka mata.
Mama Nuna menatapku tajam.
“Ngapain Ndy? Koq kamu telanjang juga?” tanya Mama.
“Maaf ma, Andy khilaf, abis nafsu liat Mama telanjang gitu” jawabku takut-takut.
“Kamu mulai nakal ya” kata Mama sambil tangannya memelukku erat.
“Ya udah Mama juga pengen peluk kamu, udah
lama Mama nggak dipeluk papamu. Mama tadi kegerahan makanya Mama telanjang, e nggak taunya kamu masuk” jelas Mama.
Yang nggak kusangka-sangka tiba-tiba Mama mencium bibirku.
Dia mengisap ujung lidahku, lama dan dalam, semakin dalam.
Aku bereaksi. Naluri laki-laki muda terpacu.
Aku mebalas ciuman Mama tiriku yang cantik.
Semuanya berjalan begitu saja tanpa direncanakan. Lidah Mama kemudian berpindah menelusuri tubuhku.
“Kamu sudah dewasa ya Ndy, gak apa-apa kan kamu Mama perlakukan seperti papamu”
gumam Mama disela telusuran lidahnya.
“Punya kamu juga sudah besar, belom sebesar punya papamu tapi lebih keras dan tegang”, cerocos Mama lagi.
Aku hanya diam menahan geli dan nikmat. Mama lebih banyak aktif menuntun (atau mengajariku).
Si otong kemudian dijilatin Mama. Ini membuat aku nggak tahan karena kegelian. Lalu, punyaku dikulum Mama.
Oh indah sekali rasanya. Lama aku dikerjain Mama cantik ini seperti ini.
Mama kemudian tidur telentang, mengangkangkan kaki dan menarik tubuhku agar tiduran diatas tubuh
indahnya. Mama kemudian memegang punyaku, mengocoknya sebentar
dan mengarahkan keselangkangan Mama. Aku hanya diam saja.
Terasa punyaku sepertinya masuk ke vagina Mama tapi aku tetep diam aja sampai kemudian Mama menarik pantatku
dan menekan. Berasa banget punyaku masuk ke dalam punya Mama.
Pergesekan itu membuat merinding. Secara naluri aku kemudian melakukan gerakan maju
mundur biar terjadi lagi gesekan. Mama juga mengoyangkan pinggulnya.
Mama yang kulihat sangat menikmati bahkan mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya sehingga aku
seperti sedang naik kuda diatas pinggul Mama.
Tiba-tiba Mama berteriak kencang sambil memelukku erat-erat, “Andyy, Mama
enak Ndy” teriak Mama.
“Ma, Andy juga enak nih mau muncrat” dan aku ngerasain sensasi
yang lebih gila dari sekedar menonton Mama kemarin-kemarin.
Aku lemes banget, dan tersandar layu ditubuh
mulus Mama tiriku. Aku nggak tau berapa lama, rupanya aku tertidur, Mama juga.
Aku tersadar ketika Mama mengecup bibirku dan menggeser tubuhku dari atas tubuhnya.
Mama kemudian keluar kamar dengan melilitkan handuk, mungkin mau mandi.
Akupun menyusul Mama dalam keadaan telanjang. Kuraba punyaku, lengket sekali, aku pengen mencucinya.
Aku melihat Mama lagi mandi, pintu kamar mandi terbuka lebar.
Uhh, tubuh Mama tiriku itu memang indah sekali.
Nggak terasa punyaku bergerak bangkit lagi. Dengan posisi punyaku menunjuk aku
berjalan ke kamar mandi menghampiri Mama.
“Ma, mau lagi dong kayak tadi, enak” kini aku yang meminta.
Mama memnandangku dan tersenyum manis, manis sekali. Kami pun melanjutkan kejadian seperti
dikamar.
Kali ini Mama berjongkok di kloset lalu punyaku yang sedari tadi
mengacung aku masukkan ke vagina Mama yang
memerah. Kudorong keluar masuk seperti tadi. Mama membantu dengan menarik
pantatku dalam-dalam. Nggak berapa lama Mama mengajak berdiri dan dalam posisi berdiri kami saling memeluk dan punyaku menancap erat di vagina Mama.
Aku menikmati ini, karena punyaku seperti dijepit.
Mama menciumku erat. Baru kusadari kalau badanku ternyata sama tinggi dengan mamaku.
Dlama posisi berdiri aku kemudian merasakan kenikmatan ketika cairan kental kembali muncrat
dari punyaku sementara Mama mengerang dan mengejang sambil memelukku erat.
Kami sama–sama lunglai.
Setelah kejadian hari itu, kami selalu melakukan persetubuhan dengan Mama tiriku.
Hampir setiap hari sepulang sekolah, bahkan sebelum berangkat sekolah.
Lebih gila lagi kadang kami melakukan walaupun Papa ada dirumah.
Sudah tentu dengan curi-curi kesempatan kalo Papa lagi tidur.
Kehadiran Papa dirumah seperti siksaan buatku karena aku nggak bisa melampiaskan nafsu terhadap Mama.
Aku sangat menikmati. Aku senang kalo Papa keluar kota untuk waktu lama, Mama
juga seneng. Mama terus melatih aku dalam beradegan sex. Banyak
pelajaran yang dikasi Mama, mulai dari cara menjilat vagina yang
bener, cara mengisap buah dada, cara mengenjot yang baik.
Pokoknya aku diajarkan bagaimana memperlakukan wanita dengan enak.
Aku sadar kalo aku menjadi hebat karena Mama tiriku.
Sekitar setahun lebih aku menjadi pemuas Mama tiriku menggantikan posisi ayah.
Aku bahkan jatuh cinta dengan Mama tiriku ini.
Nggak sedetikpun aku mau berpisah dengan mamaku, kecuali sekolah.
Dikelaspun aku selalu memikirkan Mama dirumah, pengen cepet pulang.
Aku jadi nggak pernah bergaul lagi sama temen-temen.
Sebagai cowok yang ganteng, banyak temen cewek yang suka mengajak aku jalan tapi aku nggak tertarik.
Aku selalu teringat Mama. Justru aku akan tertarik kalo melihat Bu guru Ratna yang umurnya
setua Mama tiriku atau aku tertarik melihat Bu Henny tetanggaku dan temen Mama.
Tapi percintaan dengan Mama hanya bertahan setahun lebih karena
kejadian tragis menimpa Mama. Mama meninggal dalam kecelakaan. Ketika itu seorang diri Mama tiriku mengajak aku nemenin tapi aku nggak bisa karena aku ada les.
Mama akhirnya pergi sendiri ke mal. Dijalan mobil Mama tabrakan hebat dan Mama meninggal ditempat.
Aku merasa sangat berdosa nggak bisa nemenin Mama tiriku tercinta.
Aku shock. Aku ditenangkan Papa.
“Papa tau kamu deket sekali dengan Mama Nuna, tapi nggak
usah sedih ya Ndy, Papa juga sedih tapi mau bilang apa” kata papaku.
Selama ini papaku tau kalo aku sangat deket dengan Mama.
Papa senang karena Papa mengira aku senang dengan Mama Nuna dan menganggapnya sebagai Mama kandung.
Padahal kalau Papa tau apa yang terjadi selama ini.
Aku merasa berdosa terhadap Papa yang dibohongi selama ini.
Tapi semua apa yang diberikan Mama Nuna, kasih sayang, cinta dan pelajaran sex sangat membekas dipikiranku.
Sampai saat ini, aku terobsesi dengan apa semua yang dimiliki Mama
Nuna dulu. Aku mendambakan wanita seumur Mama, secantik Mama, sebaik Mama dan hebat di ranjang
seperti Mama tiriku itu. Kusadari sekarang kalo aku sangat senang bercinta dengan wanita STW semuanya berawal dari sana.,,,,,,
,,,,,,,,,,,,,,,,